
By Fizu | Sadar Utuh

Fizu adalah seorang karyawan 9-5 yang tengah merintis perjalanan sebagai solopreneur. Aktivitasnya saat ini, ia biasa sebut sebagai K3S—Kerja, Keluarga, Kuliah, dan Solopreneur.
Di siang hari, ia bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa. Di malam hari, ia menghabiskan waktunya menjadi suami di pernikahan yang sedang berjalan dua tahun. Di sela-sela itu bekerja dan di hari sabtunya, ia melakukan pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta di Pamulang, mengambil jurusan Teknik Informatika. Di samping semua itu, guna memaksimalkan waktunya. Disela-sela waktunya itu, ia manfaatkan untuk membangun sampingan sebagai solopreneur di dunia digital.
Minat dan perhatiannya tertuju pada pengembangan diri, khususnya self-awareness. Keterlibatannya dalam bidang ini lahir dari keresahan pribadinya—di era yang penuh distraksi, banyak orang kehilangan arah bukan karena tidak tahu tujuannya mau kemana, melainkan karena tidak tahu sedang berada di mana posisinya saat ini.
Dari sinilah ia menginisiasi kampanyenya dengan akun media sosialnya dengan nama Sadar Utuh—sebuah konsep untuk membantu individu memahami diri mereka, mengenali potensi, dan mengendalikan hidup sesuai arah yang diinginkan. Tagline yang ia usung adalah:
"Bantu menyadari dirimu, kenali potensimu, dan kendalikan hidupmu."
Untuk menyebarkan gagasan ini, ia aktif di media sosial, terutama di Threads, tempat ia menguliti dirinya sendiri melalui tulisan—berbagi pengalaman, pengetahuan, dan keahlian yang ia miliki.
Selain itu, Fizu juga seorang Notion Creator. Ia gemar menciptakan produk digital seperti E-Book, W-Book, Template, dan berbagai materi lain yang mendukung produktivitas dan pengembangan diri. Sebagian besar karyanya dikembangkan di Notion, yang kini menjadi bagian dari personal branding-nya.
Dengan segala peran dan tanggung jawab yang ia jalani, Fizu terus berupaya menjaga keseimbangan, menggali potensi, dan berbagi wawasan agar semakin banyak orang bisa lebih sadar akan diri mereka sendiri dan mampu mengendalikan hidup mereka dengan lebih baik.
Kamu bisa temukan macam-macam tulisannya di sini👇
<aside> <img src="/icons/flash_gray.svg" alt="/icons/flash_gray.svg" width="40px" />
Assalamualaikum… Hallo Kawan Sadar👋
Terima kasih aku ucapkan untuk kamu yang sudah bisa mengambil manfaat dari pengetahuan yang bisa aku share ini ke kamu.
Semoga dengan adanya W-Book ini, bisa membantu kamu dalam mencapai tujuanmu dengan konsisten.
Langsung baca ke bawah yaa, selamat menikmati!
</aside>

Kamu pasti ingin menjadi seseorang yang konsisten, bukan? Konsisten dalam membuat konten, membangun produk digital, belajar hingga menjadi ahli di bidang yang kamu tekuni, ataupun menghasilkan uang di online.
Namun, ada satu hal yang perlu kamu tahu—konsistensi itu tidak mudah. Banyak kreator berusaha keras untuk mencapai target tertentu, seperti mendapatkan penghasilan sekian-sekian, dan mereka mengatakan kuncinya ada pada konsistensi.
Bagi sebagian orang, konsisten terasa mudah. Tapi bagi yang lain, justru sulit. Bukan karena mereka malas, melainkan karena tidak tahu bagaimana caranya agar bisa tetap konsisten.
Mungkin kamu bisa bertahan selama 1, 2, atau 3 hari. Tapi sering kali, memasuki hari ke-5 hingga ke-10, rasanya semakin berat. Kenapa begitu? Karena otak kita belum terbiasa dengan aktivitas tersebut. Akibatnya, otak menyalakan "alarm" seolah-olah ada sesuatu yang tidak biasa, membuat kita merasa ingin berhenti.
Lalu, apa penyebab utama kesulitan dalam menjaga konsistensi? Berikut beberapa faktor yang sering menjadi penghalang:

Distraksi: Era digital yang membuat perhatian mudah terpecah
Di era digital saat ini, otak kita semakin terbiasa dengan dopamine instant reward—kenikmatan instan yang datang dari notifikasi, media sosial, dan berbagai hiburan yang mudah diakses.
Salah satu bentuk distraksi terbesar adalah scrolling media sosial. Konten-konten pendek, sering kali berdurasi kurang dari lima menit, membuat otak terbiasa dengan informasi yang instan dan dangkal.
Padahal, secara alami, otak membutuhkan waktu untuk memahami, menganalisis, dan memaknai informasi. Jika terus-menerus terpapar distraksi, kita kehilangan kemampuan untuk fokus dalam waktu yang lama.
Konsistensi membutuhkan fokus agar kita bisa menyelesaikan sesuatu dengan baik. Namun, dengan lingkungan yang penuh distraksi seperti sekarang, tanpa kendali yang baik, kita mudah kehilangan fokus sedikit demi sedikit.
Berekspektasi terlalu tinggi: Ingin cepat sukses tanpa memahami prosesnya
Banyak orang berpikir bahwa untuk sukses, mereka hanya perlu langsung mulai dan konsisten sejak hari pertama. Mereka berharap bisa tetap termotivasi setiap hari tanpa kendala.
Seperti beberapa orang di era digital saat ini yang mengharapkan instant cuan. Alih-alih cuman ngonten, bisa langsung menghasilkan uang.
Padahal, konsistensi bukan sesuatu yang muncul dari paksaan sejak awal, melainkan hasil dari rutinitas yang sudah terbentuk. Jika kita memaksakan diri untuk langsung konsisten tanpa strategi yang tepat, biasanya hanya bertahan di awal saja. Memasuki pertengahan jalan, energi mulai terkuras, semangat menurun, dan akhirnya kita menyerah sebelum mencapai tujuan.
Kurangnya support system: Berjuang sendiri lebih sulit dibandingkan bersama
Konsistensi membutuhkan dukungan, terutama dari lingkungan sekitar. Salah satu alasan utama seseorang gagal mempertahankan konsistensi adalah karena menjalani prosesnya sendirian.
Memang, ada orang yang bisa tetap konsisten tanpa dukungan eksternal. Tapi bagi kebanyakan orang, memiliki support system bisa menjadi dorongan besar. Ketika kita melakukannya bersama orang lain, ada rasa sense of connectedness—perasaan terhubung yang meningkatkan motivasi.
Dengan adanya komunitas atau orang-orang yang memiliki tujuan serupa, perjalanan menjadi lebih menyenangkan, penuh dorongan, dan kita lebih termotivasi untuk tetap konsisten hingga mencapai hasil yang diinginkan.

Konsistensi Bukan Berarti Tidak Pernah Gagal
Banyak orang berpikir bahwa konsistensi berarti harus dilakukan setiap hari tanpa pernah absen. Padahal, kenyataannya, kesalahan dan kegagalan adalah bagian dari proses.
Yang terpenting bukanlah seberapa sering kamu melewatkan satu atau dua hari, tetapi seberapa jauh kamu sudah melangkah dan bagaimana kamu bisa terus kembali melanjutkannya. Jadi, jangan terlalu fokus pada "bolong-bolongnya," melainkan pada keberlanjutan yang sudah kamu bangun.
Fokus pada Progres, Bukan Kesempurnaan
Pernah dengar kalimat, "Kalau nggak bisa sempurna, mending nggak usah sekalian"? Pemikiran seperti ini sering kali justru menghambat kita untuk berkembang.
Progres jauh lebih penting daripada kesempurnaan. Jangan membuat aturan yang terlalu kaku hingga sulit dilakukan. Sebaliknya, buat sistem yang fleksibel agar tetap bisa dijalankan tanpa beban.
Bangun Identitas, Bukan Sekadar Kebiasaan

Daripada hanya berusaha membangun kebiasaan, lebih baik bangun identitas diri sesuai dengan bidang yang ingin kamu tekuni.
Misalnya, alih-alih hanya mencoba untuk "rajin menulis," lebih baik mulai mengidentifikasi diri sebagai seorang penulis. Dengan begitu, kamu tidak hanya sekadar melakukan aktivitas menulis, tetapi juga merasa bahwa menulis adalah bagian dari dirimu.
Cara ini membuatmu lebih menikmati proses tanpa merasa terbebani, karena kamu tidak lagi hanya "berusaha konsisten," tetapi benar-benar menjalani identitas yang kamu yakini.
Cara terbaik untuk memulai adalah dengan mulai rutinitas kecil, tanpa maksa untuk langsung konsisten.
Sering kali, ketika ingin membangun kebiasaan baru, kita berharap bisa langsung konsisten. Padahal, konsistensi bukan sesuatu yang instan—ia adalah hasil dari aktivitas yang dilakukan secara berkelanjutan.
<aside> <img src="/icons/checkmark_blue.svg" alt="/icons/checkmark_blue.svg" width="40px" />
Konsisten tidak akan pernah bisa dimulai, sebelum melakukannya dengan rutin.
</aside>
Sebenarnya, menjadikan sesuatu sebagai rutinitas jauh lebih mudah dibandingkan langsung konsisten. Jika kamu sering melihat konten di media sosial, pasti tidak asing dengan anjuran seperti:
Seolah-olah, konsistensi adalah sesuatu yang bisa langsung diterapkan, padahal tidak semudah itu. Banyak orang yang menyarankan "konsisten" tanpa memahami bahwa sebelum bisa konsisten, seseorang perlu membangun rutinitas terlebih dahulu.
Konsistensi biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah disiplin—baik dalam mengatur waktu, energi, maupun fokus. Mereka hampir tidak memberi celah untuk melewatkan aktivitas tersebut.
Namun, aku ingin mengajakmu untuk memulai dari rutinitas terlebih dahulu. Karena membangun rutinitas adalah langkah paling masuk akal untuk memulai sesuatu secara berkelanjutan.
Rutinitas membantu kita menjadi lebih rajin dalam melakukan sesuatu. Misalnya, ketika kita mulai berolahraga, sering kali ada tetangga yang melihat dan berkomentar, “Wih, rajin banget olahraganya!” Padahal, baru mulai dan belum sering-sering banget melakukannya. Tapi karena aktivitas itu mulai terlihat sebagai bagian dari rutinitas, kita sudah dianggap rajin.
Rutinitaslah yang membentuk kebiasaan rajin—bukan karena selalu sama setiap hari, tetapi karena tetap dilakukan meskipun dengan variasi. Sementara itu, konsistensi menuntun kita pada disiplin, karena mengikuti aturan dan rencana yang telah ditetapkan.
Rutinitas membangun kerajinan, sedangkan konsistensi menumbuhkan disiplin.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara rutinitas dan konsistensi? Kita akan membahasnya setelah ini.

Secara sekilas, rutinitas dan konsistensi terlihat sama karena keduanya melibatkan aktivitas yang dilakukan secara berulang. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Memahami perbedaan ini penting agar kamu tahu apakah lebih baik memulai dengan rutinitas terlebih dahulu atau langsung berusaha untuk konsisten.
Mari kita bahas satu per satu.
Rutinitas adalah pola aktivitas yang dilakukan secara berulang, tetapi masih bisa berubah—baik dalam hal waktu, durasi, maupun kualitasnya. Rutinitas tidak harus stabil, sehingga lebih fleksibel dan mudah diterapkan saat memulai kebiasaan baru.
Jadi, dalam rutinitas, yang terpenting adalah memulai dan membangun kebiasaan terlebih dahulu, tanpa perlu khawatir soal keteraturan yang sempurna.
Konsistensi berarti melakukan sesuatu secara berulang dengan pola yang tetap, baik dari segi waktu, durasi, maupun kualitasnya. Jika kamu sudah konsisten, aktivitas tersebut menjadi bagian dari hidupmu dengan aturan yang jelas dan tidak berubah-ubah.
Namun yang perlu dipahami, konsistensi sering kali terasa membosankan, terutama bagi pemula. Karena itulah, dalam konsistensi ada konsep marginal improvement—yaitu upaya untuk meningkatkan kualitas atau kuantitas secara bertahap.
Rutinitas bisa diibaratkan sebagai tangga pertama menuju konsistensi. Sama seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan, ia tidak langsung bisa berjalan dengan lancar. Awalnya, ia hanya mencoba berdiri dan melangkah sedikit demi sedikit, jatuh bangun berkali-kali, hingga akhirnya bisa berjalan dengan stabil tanpa terjatuh.
Begitu pula dengan kita. Sebelum bisa konsisten, kita harus membangun rutinitas terlebih dahulu. Dari yang awalnya tidak teratur, lama-kelamaan akan menjadi pola yang stabil dan akhirnya menjadi kebiasaan yang konsisten.