Mulai dengan Rutinitas, Temukan Polanya, dan Konsistensikan Setelahnya

COVER EBOOK CONSISTENCY.jpg

By Fizu | Sadar Utuh

Daftar Isi:

Profil Penulis


WhatsApp Image 2024-11-08 at 11.06.12 AM.jpeg

Fizu adalah seorang karyawan 9-5 yang tengah merintis perjalanan sebagai solopreneur. Aktivitasnya saat ini, ia biasa sebut sebagai K3S—Kerja, Keluarga, Kuliah, dan Solopreneur.

Di siang hari, ia bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa. Di malam hari, ia menghabiskan waktunya menjadi suami di pernikahan yang sedang berjalan dua tahun. Di sela-sela itu bekerja dan di hari sabtunya, ia melakukan pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta di Pamulang, mengambil jurusan Teknik Informatika. Di samping semua itu, guna memaksimalkan waktunya. Disela-sela waktunya itu, ia manfaatkan untuk membangun sampingan sebagai solopreneur di dunia digital.

Minat dan perhatiannya tertuju pada pengembangan diri, khususnya self-awareness. Keterlibatannya dalam bidang ini lahir dari keresahan pribadinya—di era yang penuh distraksi, banyak orang kehilangan arah bukan karena tidak tahu tujuannya mau kemana, melainkan karena tidak tahu sedang berada di mana posisinya saat ini.

Dari sinilah ia menginisiasi kampanyenya dengan akun media sosialnya dengan nama Sadar Utuh—sebuah konsep untuk membantu individu memahami diri mereka, mengenali potensi, dan mengendalikan hidup sesuai arah yang diinginkan. Tagline yang ia usung adalah:

"Bantu menyadari dirimu, kenali potensimu, dan kendalikan hidupmu."

Untuk menyebarkan gagasan ini, ia aktif di media sosial, terutama di Threads, tempat ia menguliti dirinya sendiri melalui tulisan—berbagi pengalaman, pengetahuan, dan keahlian yang ia miliki.

Selain itu, Fizu juga seorang Notion Creator. Ia gemar menciptakan produk digital seperti E-Book, W-Book, Template, dan berbagai materi lain yang mendukung produktivitas dan pengembangan diri. Sebagian besar karyanya dikembangkan di Notion, yang kini menjadi bagian dari personal branding-nya.

Dengan segala peran dan tanggung jawab yang ia jalani, Fizu terus berupaya menjaga keseimbangan, menggali potensi, dan berbagi wawasan agar semakin banyak orang bisa lebih sadar akan diri mereka sendiri dan mampu mengendalikan hidup mereka dengan lebih baik.

Kamu bisa temukan macam-macam tulisannya di sini👇

Source


<aside> <img src="/icons/flash_gray.svg" alt="/icons/flash_gray.svg" width="40px" />

Assalamualaikum… Hallo Kawan Sadar👋

Terima kasih aku ucapkan untuk kamu yang sudah bisa mengambil manfaat dari pengetahuan yang bisa aku share ini ke kamu.

Semoga dengan adanya W-Book ini, bisa membantu kamu dalam mencapai tujuanmu dengan konsisten.

Langsung baca ke bawah yaa, selamat menikmati!

</aside>

Menyimpan Access WBook

consistent.png

Kenapa Konsistensi Terasa Mustahil?

Kamu pasti ingin menjadi seseorang yang konsisten, bukan? Konsisten dalam membuat konten, membangun produk digital, belajar hingga menjadi ahli di bidang yang kamu tekuni, ataupun menghasilkan uang di online.

Namun, ada satu hal yang perlu kamu tahu—konsistensi itu tidak mudah. Banyak kreator berusaha keras untuk mencapai target tertentu, seperti mendapatkan penghasilan sekian-sekian, dan mereka mengatakan kuncinya ada pada konsistensi.

Bagi sebagian orang, konsisten terasa mudah. Tapi bagi yang lain, justru sulit. Bukan karena mereka malas, melainkan karena tidak tahu bagaimana caranya agar bisa tetap konsisten.

Mungkin kamu bisa bertahan selama 1, 2, atau 3 hari. Tapi sering kali, memasuki hari ke-5 hingga ke-10, rasanya semakin berat. Kenapa begitu? Karena otak kita belum terbiasa dengan aktivitas tersebut. Akibatnya, otak menyalakan "alarm" seolah-olah ada sesuatu yang tidak biasa, membuat kita merasa ingin berhenti.

Lalu, apa penyebab utama kesulitan dalam menjaga konsistensi? Berikut beberapa faktor yang sering menjadi penghalang:

Distraksi, Ekspektasi, dan Kurangnya Support System.

distracted.png

Mitos Konsistensi: Harus Sempurna Seketika

Cara terbaik untuk memulai adalah dengan mulai rutinitas kecil, tanpa maksa untuk langsung konsisten.


Rahasia Konsistensi: Mulai dari Rutin

Sering kali, ketika ingin membangun kebiasaan baru, kita berharap bisa langsung konsisten. Padahal, konsistensi bukan sesuatu yang instan—ia adalah hasil dari aktivitas yang dilakukan secara berkelanjutan.

<aside> <img src="/icons/checkmark_blue.svg" alt="/icons/checkmark_blue.svg" width="40px" />

Konsisten tidak akan pernah bisa dimulai, sebelum melakukannya dengan rutin.

</aside>

Sebenarnya, menjadikan sesuatu sebagai rutinitas jauh lebih mudah dibandingkan langsung konsisten. Jika kamu sering melihat konten di media sosial, pasti tidak asing dengan anjuran seperti:

Seolah-olah, konsistensi adalah sesuatu yang bisa langsung diterapkan, padahal tidak semudah itu. Banyak orang yang menyarankan "konsisten" tanpa memahami bahwa sebelum bisa konsisten, seseorang perlu membangun rutinitas terlebih dahulu.

Konsistensi biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah disiplin—baik dalam mengatur waktu, energi, maupun fokus. Mereka hampir tidak memberi celah untuk melewatkan aktivitas tersebut.

Namun, aku ingin mengajakmu untuk memulai dari rutinitas terlebih dahulu. Karena membangun rutinitas adalah langkah paling masuk akal untuk memulai sesuatu secara berkelanjutan.

Rutinitas membantu kita menjadi lebih rajin dalam melakukan sesuatu. Misalnya, ketika kita mulai berolahraga, sering kali ada tetangga yang melihat dan berkomentar, “Wih, rajin banget olahraganya!” Padahal, baru mulai dan belum sering-sering banget melakukannya. Tapi karena aktivitas itu mulai terlihat sebagai bagian dari rutinitas, kita sudah dianggap rajin.

Rutinitaslah yang membentuk kebiasaan rajin—bukan karena selalu sama setiap hari, tetapi karena tetap dilakukan meskipun dengan variasi. Sementara itu, konsistensi menuntun kita pada disiplin, karena mengikuti aturan dan rencana yang telah ditetapkan.

Rutinitas membangun kerajinan, sedangkan konsistensi menumbuhkan disiplin.

Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara rutinitas dan konsistensi? Kita akan membahasnya setelah ini.

Rutinitas vs Konsistensi: Apa Bedanya?

planner.png

Secara sekilas, rutinitas dan konsistensi terlihat sama karena keduanya melibatkan aktivitas yang dilakukan secara berulang. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Memahami perbedaan ini penting agar kamu tahu apakah lebih baik memulai dengan rutinitas terlebih dahulu atau langsung berusaha untuk konsisten.

Mari kita bahas satu per satu.

1. Rutinitas: Aktivitas Berulang yang Bisa Berubah

Rutinitas adalah pola aktivitas yang dilakukan secara berulang, tetapi masih bisa berubah—baik dalam hal waktu, durasi, maupun kualitasnya. Rutinitas tidak harus stabil, sehingga lebih fleksibel dan mudah diterapkan saat memulai kebiasaan baru.

Jadi, dalam rutinitas, yang terpenting adalah memulai dan membangun kebiasaan terlebih dahulu, tanpa perlu khawatir soal keteraturan yang sempurna.

2. Konsistensi: Aktivitas Berulang dengan Pola yang Stabil

Konsistensi berarti melakukan sesuatu secara berulang dengan pola yang tetap, baik dari segi waktu, durasi, maupun kualitasnya. Jika kamu sudah konsisten, aktivitas tersebut menjadi bagian dari hidupmu dengan aturan yang jelas dan tidak berubah-ubah.

Namun yang perlu dipahami, konsistensi sering kali terasa membosankan, terutama bagi pemula. Karena itulah, dalam konsistensi ada konsep marginal improvement—yaitu upaya untuk meningkatkan kualitas atau kuantitas secara bertahap.

3. Rutinitas adalah Langkah Awal Menuju Konsistensi

Rutinitas bisa diibaratkan sebagai tangga pertama menuju konsistensi. Sama seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan, ia tidak langsung bisa berjalan dengan lancar. Awalnya, ia hanya mencoba berdiri dan melangkah sedikit demi sedikit, jatuh bangun berkali-kali, hingga akhirnya bisa berjalan dengan stabil tanpa terjatuh.

Begitu pula dengan kita. Sebelum bisa konsisten, kita harus membangun rutinitas terlebih dahulu. Dari yang awalnya tidak teratur, lama-kelamaan akan menjadi pola yang stabil dan akhirnya menjadi kebiasaan yang konsisten.

Kenapa Membangun Rutinitas Lebih Realistis?

1. Rutinitas Mengurangi Tekanan Mental